Rabu, 16 Juni 2010

Kabupaten Kuningan





Kabupaten Kuningan, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Kuningan. Letak astronomis kabupaten ini di antara 108°23" - 108°47" Bujur Timur dan 6°45" - 7°13" Lintang Selatan. Kabupaten ini terletak di bagian timur Jawa Barat, berbatasan dengan Kabupaten Cirebon di utara, Kabupaten Brebes (Jawa Tengah) di timur, Kabupaten Ciamis di selatan, serta Kabupaten Majalengka di barat. Kabupaten Kuningan terdiri atas 32 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah 361 desa dan 15 kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Kuningan.

Bagian timur wilayah kabupaten ini adalah dataran rendah, sedang di bagian barat berupa pegunungan, dengan puncaknya Gunung Ceremai (3.076 m) yang biasa salah kaprah disebut dengan Gunung Ciremai, gunung ini berada di perbatasan dengan Kabupaten Majalengka. Gunung Ceremai adalah gunung tertinggi di Jawa Barat.


Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Kuningan
17 Juni 2010

Sumber Gambar:

http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Kuningan

http://www.kuningankab.go.id/sekilas-kuningan/peta-kuningan

Gunung Ceremai di lihat dari daerah cigugur)
http://www.docstrike14.co.cc/2010/06/ceremai-gunung-ceremai-seringkali.html

Masjid Agung Syiarul Islam Kabupaten Kuningan)
http://lemburkuring2007.wordpress.com/2007/07/page/2/

Peta Kuningan


View Larger Map

Kabupaten Kuningan


Nama Resmi : Kabupaten Kuningan
Ibukota : Kuningan
Provinsi : Jawa Barat
Batas Wilayah :
Utara: Kabupaten Cirebon
Selatan: Kabupaten Ciamis
Barat: Kabupaten Majalengka
Timur: Provinsi Jawa Tengah
Luas Wilayah : 1.117 Km²
Jumlah Penduduk : 932.720 Jiwa (Sensus Penduduk 2000)
Jumlah Kecamatan : 29
Website : http://www.kuningan.go.id



Sejarah

Diperkirakan ± 3.500 tahun sebelum masehi sudah terdapat kehidupan manusia, hal ini didasarkan kepada peninggalan yang ditemukan di Wilayah Kuningan, salah satu bukti peninggalan tersebut terdapat di Kampung Cipari Kelurahan Cigugur yaitu pada tahun 1972 ditemukan peninggalan dengan identifikasi sebuah peti kubur batu, pekakas dari batu dan keramik dan diperkirakan pada masa itu terdapat pemukiman manusia yang telah memiliki kebudayaan tinggi.
Suatu pemukiman masyarakat manusia tersebut baru terwujud dalam bentuk suatu kekuatan politik seperti halnya negara, sebagaimana dituturkan dalam cerita parahyangan dengan nama KUNINGAN.

Negara / Kerajaan Kuningan tersebut berdiri setelah dinobatkan SEUWEUKARMA sebagai Raja/Kepala pemerintahan yang kemudian bergelar RAHIYANG TANGKUKU atau SANG KUKU yang bersemayam di Arile atau Saunggalah.
SEUWEUKARMA menganut ajaran “DANGIANG KUNING’ dan berpegang kepada “SANGHIYANG DHARMA�? (Ajaran Kitab Suci). Serta “SANGHIYANG RIKSA�? (sepuluh pedoman hidup). Ekspansi kekuasaan kuningan pada jaman kekuasaan seuweukarma menyeberang sampai negeri melayu. Pada saat itu masyarakat kuningan merasa hidup aman dan tentram di bawah pimpinan Seuweukarma yang bertahta sampai berusia lama.
Perkembangan kerajaan kuningan selanjutnya seakan akan terputus, dan baru pada 1175 masehi muncul lagi. Kuningan pada waktu itu menganut agama Hindu di bawah pimpinan RAKEAN DARMARIKSA dan merupakan Daerah otonom yang masuk wilayah kerajaan Sunda yang terkenal dengan nama Pajajaran , dan termasuk cirebon pada tahun 1389 masehi masuk kekuasaan kerajaan pajajaran, namun pada abad ke-15 cirebon sebagai kerajaan islam menyatakan kemerdekaannya dari pakuan pajajaran.

Pada tahun 1470 masehi datang ke Cirebon seorang ulama besar agama Islam yaitu SYEH SYARIF HIDAYATULLAH putra SYARIF ABDULAH dan ibunya RARA SANTANG atau SYARIFAH MO’DAIM putra Prabu SYARIF HIDAYATULLAH adalah murid SAYID RAHMAT yang lebih dikenal dengan nama SUNAN NGAMPEL yang memimpin daerah ampeldenta.
Kemudian SYEH SYARIF HIDAYATULLAH ditugaskan oleh sunan ngampel untuk menyebarkan agama islam di daerah Jawa Barat, dan mula-mula tiba di Cirebon yang pada waktu Kepala Pemerintahan Cirebon dipegang oleh Haji DOEL IMAN.
Pada waktu 1479 masehi Haji Doel Iman berkenan menyerahkan kepada syarif hidayatullah setelah menikah dengan putrinya. Karena terdorong oleh hasrat ingin menyebarkan agama Islam, pada tahun 1481 Masehi Syeh Syarif Hidayatullah berangkat ke daerah Lurangung yang masuk wilayah Cirebon Selatan yang pada waktu itu dipimpin oleh KI GEDENG LURAGUNG yang bersaudara dengan KI GEDENG KASMAYA dari Cirebon, selanjutnya Ki Gedeng Luragung memeluk agama Islam.

Pada waktu Syeh Syarif Hidayatullah di Luragung, datanglah Ratu Ontin Nio istrinya dalam keadaan hamil dari negeri Cina (bergelar: Ratu Rara Sumanding) ke Luragung, dari Ratu Ontin Nio alias Ratu Lara Sumanding lahir seorang putra yang tampan dan gagah yang diberi nama Pangeran Kuningan. setelah dari Luragung, Syeh Syarif Hidayatullah dengan rombongan menuju tempat tinggal Ki Gendeng Kuningan di Windu Herang, dan menitipkan Pangeran Kuningan yang masih kecil kepada Ki Gendeng Kuningan agar disusui oleh istri Ki Gendeng Kuningan, karena waktu itu Ki Gendeng Kuningan mempunyai putera yang sebaya dengan Pangeran Kuningan nemanya Amung Gegetuning Ati yang oleh Syeh Syarif Hidayatullah diganti namanya menjadi Pangeran Arya Kamuning serta beliau memberikan amanat bahwa kelak dimana Pangeran Kuningan sudah dewasa akan dinobatkan menjadi Adipati Kuningan.

Setelah Pangeran Kuningan dan Pangeran Arya Kamuning tumbuh dewasa, diperkirakan tepatnya pada bulan Muharam tanggal 1 September 1498 Masehi, Pangeran Kuningan dilantik menjadi kepala pemerintahan dengan gelar Pangeran Arya Adipati Kuningan dan dibantu oleh Arya Kamuning. Maka sejak itulah dinyatakan sebagai titik tolak terbentuknya pemerintahan Kuningan yang selanjutnya ditetapkan menjadi tanggal hari jadi Kuningan



Arti Logo

Dengan modal semangat dinamis, konstruktif, sportif, semangat menegakkan keadilan, melenyapkan kebathilan, sanggup berjuang membangun dan bertaqwa kepada Allah SWT untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dasar
Perisai berbentuk lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia berarti tenang, penegak keamanan Pancasila dan UUD 1945 serta lambang keadaan yang selalu aman, tenteram dan sejahtera.


Kuda Jantan
Melambangkan sifat masyarakat kuningan yang dinamis, konstruktif, kretif, sportif, semangat menegakan keadilan dan melenyapkan kebathilan. Dalam sejarah perjuangan leluhur Kuningan dan masa gerilya dalam Kabupaten Kuningan, kuda digunakan sarana angkutan dan juga digunakan sebagai alat perjuangan, serta terkenal dengan Leutik-leutik kuda Kuningan (Kecil-kecil kuda Kuningan).


Gunung Ciremai
Menunjukan Kuningan berada di kaki gunung Ciremai, gunung tertinggi di Jawa Barat dengan tanahnya yang subur, udaranya sejuk dan nyaman, cocok untuk daerah wisata.


Air Sungai Lima Gelombang
Air sungai melambangkan bahwa Kabupaten Kuningan memiliki lima sungai yang besar, yaitu Cisanggarung, Cijolang, Cisande, Cijangkelok dan sungai Citaal.


Bokor Kuning
Melambangkan sejarah lahirnya Sang Adipati Kuningan yang kemudian menjadi kepala pemerintahan pertama di Kuningan pada tanggal 1 April 1498. Bokor Kuning diartikan juga sebagai lambang lahirnya Pemerintah Kabupaten Kuningan pada tanggal 1 September 1498.


Padi
Melambangkan kesuburan di bidang pangan.
Kapas
Melambangkan kesuburan di bidang sandang.

Hijau
Kemakmuran, kesejukan, ketenangan dan harapan (optimis)
Putih
Kesucian, kebersihan, kejujuran, keadilan dan kewibawaan
Hitam
Tegak, kuat, kebenaran, ampuh dan teguh
Biru
Kesetiaan, ketaatan, kepatuhan, kebesaran jiwa, berpandangan luas, perasaan halus, rendah hati dan berjiwa besar
Kuning Emas
Kesejahteraan, keagamaan, keagungan, keluhuran dan keluhungan


Nilai Budaya

Cara bertindak masyarakat secara umum mengacu kepada norma-norma yang ada, baik dalam peraturan/norma yang tertulis maupaun yang tidak tertulis.Masyarakat di Kab. Kuningan sangat taat kepada peraturan yang berlaku di daerahnya, contohnya dalam berlau lintas, membayar pajak, berorganisasi, dll. Hal ini disebabkan adanya kesadaran masyarakat bahwa diciptakannya peraturan tersebut demi kepentingan bersama, yaitu agar tercipatnya suatu kondisi masyarakat yang didambakan. Seperti yang terdapat dalam Moto Juang Kuningan Asri, yaitu Aman, Sehat, Rindang serta Indah.


Salah satu contoh kondisi kewaspadaan yang ditunjukan oleh masyarakat adalah dengan diberlakukannya Perda tentang Miras, adanya ketentuan sanksi setiap Peraturan Daerah serta adanya koordinasi aparat keamanan dan penegak hukum serta yang lebih penting lagi adalah adanya partisipasi masyarakat secara aktif. Sebagai contoh adalah dibentuknya LSM dalam mengantisipasi dampak Miras dan Napza. Peranan Pemerintah dalam meningkatkan kondisi kewaspadaan masyarakat adalah dengan dilaksanakannya program Kadarkum serta sosialisasi dari setiap peraturan atau perundangan yang berlaku.


Kesadaran politik masyarakat Kab. Kuningan walaupun pada umumnya masyarakat belum mengerti betul tentang arti politik dan bagaimana berpolitik itu. Keberadaan lembaga politik yang ada sekarang ini sudah mengarah kepada upaya untuk meningkatkan peranserta dalam pembangunan. Hal ini tidak lepas dari peran Pemerintah Daerah dalam mendorong orsospoldan ormas agar lebih mandiri dan meningkatkan peransertanya dalam pembangunan. Semua itu ditunjang pula dengan sangat baiknya kinerja lembaga pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat luas serta kinerja Lembaga perwakilan rakyat di Kab. Kuningan yang baik ditambah pula dengan kondisi kehidupan demokrasi yang sangat dinamis yang dibuktikan dengan adanya kerjasama yang harmonis antara Pemerintah Daerah dengan DPRD untuk mencapai Visi dan Misi Kabupaten.


Kondisi kehidupan antar suku berjalan cukup baik, hal ini terlihat dari lembaga Bakom PKB berfungsi denagn baik, pembauran berjalan walaupun lambat, tidak pernah terjadinya selama ini persengketaan antar suku dan ditunjang dengan pendidikan wawasan kebangsaan pada masyarakat.


GDN yang dilaksanakan di Kab. Kuningan membentuk pola hidup masyarakat dan aparatur dalam rangka mewujudkan budaya tertib, budaya bersih dan budaya kerja yang dibuktikan dengan penentuan hari Jumat bersih masyarakat dan aparatur bergotongroyong dalam melaksanakan K3.


Sumber :
http://www.depdagri.go.id/pages/profil-daerah/kabupaten/id/32/name/jawa-barat/detail/3208/kuningan
17 Juni 2010

Sumber Gambar:
http://www.pa-kuningan.go.id/img/upload/peta-kab-kuningan-upload.jpg

Mencermati Objek Wisata Zaman Prasejarah di Kabupaten Kuningan

Kabupaten Kuningan memiliki keragaman objek wisata yang cukup potensial dan menarik untuk ditawarkan pada para wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Salah satunya adalah keunikan budayanya, sejak jaman prasejarah sampai di zaman moderen sekarang ini. Ada unsur-unsur budaya yang sampai kini masih melekat di masyarakat kabupaten Kuningan. Antara lain kepercayaan, agama, bahasa, acara ritual keagamaan dan sebagainya.

Dari buku “Sejarah Kuningan” yang ditulis oleh Prof. Dr. Edi S. Ekadjati (Kiblat, 2003), saya tertarik untuk mengemukakan beberapa hal yang menyangkut budaya zaman baheula ribuan tahun sebelum masehi. Gambaran ini membuktikan, bahwa ternyata kabupaten Kuningan sejak zaman Prasejarah telah memiliki keunikan budaya yang bisa dijadikan objek wisata budaya, maupun sebagai lahan penelitian para budayawan dan antropolog.

Secara administratip pemerintahan, kabupaten Kuningan merupakan nama sebuah daerah kabupaten dalam lingkup Propinsi Jawa Barat. Terletak di bagian ujung timur Jawa Barat sehingga berbatasan dengan wilayah Propinsi Jawa Tengah. Di sebelah utara kabupaten ini berbatasan dengan daerah Kabupaten Cirebon, di sebelah barat dengan daerah Kabupaten Majalengka, di sebelah selatan dengan daerah Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Cilacap, serta di sebelah timur dengan daerah Kabupaten Brebes.

Adapun tapal batas alamnya berupa Gunung Ciremai di sebelah barat, Sungai Cijolang di sebelah selatan, Situ Marahayu di sebelah timur, serta Sungai Cisang­garung dan sebagian jalan Caracas - Sindanglaut di sebelah utara. Luas daerahnya sendiri adalah 1.178,57 km2 atau 117.857,55 ha yang terdiri atas pegunungan dan dataran tinggi (720-266 m) di bagian barat dan selatan serta dataran rendah (222-120 m) di bagian utara dan timur.

Beberapa tempat dibagian barat pemandangannya indah, tanahnya subur, serta mengandung banyak sumber air, termasuk sumber air panas, dan banyak pula mengandung nilai legendaris dan historis. Tempat-tempat semacam ini, karenanya, memiliki potensi sebagai objek wisata, di samping sebagai lahan pertanian dan perikanan.

Berdasarkan penemuan benda-benda budaya yang merupakan peninggalan dari zaman purbakala atau zaman prasejarah, dapat diketahui bahwa sejak sekitar 4500 tahun yang lalu di daerah Kabupaten Kuningan telah ada kehidupan manusia. Pada masa itu manusia-manusia yang menetap di daerah Kuningan telah mampu mempertahankan dan mengembangkan hidup mereka baik secara perseorangan maupun secara berkelompok. Tentu mereka sudah memiliki mata pencaharian, sistem kepercayaan, dan organisasi sosial sendiri.

Mereka telah bercocok tanam, mempercayai adanya kekuatan gaib pada roh nenek moyang (animisme) dan benda benda tertentu (dinamisme). Pemimpin mereka muncul dari kalangan mereka sendiri yang dipandang paling baik (primus interpares). Arwah para pemimpin mereka itulah yang kemudian dijunjung tinggi dan dipuja dalam acara ritual keagamaan mereka.

Benda-benda budaya dimaksud adalah berupa artefak prasejarah seperti beliung persegi, belincung, kapak, peti kubur, patung, gelang, manik-manik, meja, menhir, bangunan berundak, dan lesung yang semuanya terbuat dari batu. Juga periuk, kendi, dan mangkuk sayuran yang terbuat dari tanah (gerabah) dengan diberi hiasan dan polos. Ada pula kapak kecil yang terbuat dari perunggu (logam). Sebagian benda budaya tersebut ditemukan di atas permukaan tanah, sebagian lagi diperoleh dari hasil penggalian (ekskavasi).

Penggalian, antara lain dilakukan oleh Lembaga Purbakala yang kemudian berubah nama menjadi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di desa Cibuntu Kecamatan Mandirancan tahun 1967 dan 1971 serta di kampung Cipari, desa/Kecamatan Cigugur tahun 1972. Penemuan lainnya didapatkan di beberapa tempat, terutama di sepanjang lereng timur Gunung Ciremai, seperti Sagarahiang, Cangkuang, Cimara, Subang.

Benda-benda budaya ini berasal dari (1) zaman kebudayaan batu baru (Neolithicum), yaitu zaman tatkala alat-alat hidup manusia terbuat dari batu dan pembuatannya sudah diasah sehingga hasilnya halus dan tajam, serta (2) zaman kebudayaan batu besar (Megalithicum), yaitu zaman tatkala banyak benda budaya dibuat dari batu berukuran besar. Pada zaman kebudayaan batu besar ditemukan pula perlengkapan hidup yang terbuat dari logam (besi dan perunggu).

Kebudayaan batu baru (Neolitik) di daerah ini hidup sekitar 4500 - 3500 tahun yang lalu (2500 - 1500 sebelum Masehi), sedangkan kebudayaan batu besar (Megalitik) hidup sesudah zaman itu sampai abad-abad pertama Masehi. Jenis kebudayaan ini ditemukan pula di beberapa daerah di Tanah Sunda (Jawa Barat, Jakarta, dan Banten), seperti di Pandeglang, Lebak, Tanggerang, Kelapa Dua (Jakarta), Karawang, Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Garut, Ciamis. Bahkan di tempat-tempat tertentu beberapa unsur kebudayaan batu besar (megalit) masih hidup sampai beberapa abad kemudian.

Berdasarkan penemuan-penemuan benda budaya tersebut diatas, kondisi lokasi penemuannya yang umurnnya di lereng timur Gunung Ciremai, dan tingkat peradaban hidup manusia pada zamannya, tampak bahwa pada zaman prasejarah kelompok manusia di daerah Kuningan menetap di sekitar sumber air baik berupa mata air alam maupun berupa aliran sungai. Cara hidup mereka sudah mulai menetap hingga betulbetul menetap di satu lokasi tertentu.

Sumber kehidupan mereka diperoleh sejak dari memanfaatkan bahan minuman (air bersih) dan bahan makanan yang telah tersedia di alam yang berasal dari tanaman (daun, bunga, buah, umbi) dan binatang (daging, kulit) hingga mengolah kekayaan alam itu sendiri (pertanian, berburu, beternak).

Mereka telah mengenal kepercayaan kepada yang gaib sebagai cikal-bakal agama mereka. Mereka percaya bahwa arwah nenek moyang mereka, terutama kalangan pemimpin masyarakat mereka yang telah meninggal dunia, menjadi yang gaib dan memiliki kekuatan gaib yang mempengaruhi hidup mereka di dunia. Arwah arwah leluhur mereka itu yang telah ada di alam gaib menempati tempat yang tinggi lokasinya dan benda-benda yang luar biasa ukurannya, kemanfaatannya, dan lokasinya.

Oleh karena itu, dipercayai pula bahwa benda-benda tersebut (batu, pohon, mata air, bukit, gunung, dan lain-lain) memiliki kekuatan gaib. Mereka percaya bahwa yang gaib dengan kekuatannya bisa mendatangkan pengaruh terhadap kehidupan mereka baik yang positif maupun yang negatif, tergantung kepada perlakuan mereka terhadap arwah leluhur itu. Jika mereka memperlakukan arwah leluhur secara baik, maka pengaruh baik yang akan datang, seperti bahan makanan banyak, hasil pertanian melimpah, kehidupan aman tenteram. Akan tetapi, jika arwah leluhur diperlakukan tidak baik, maka akan datang gangguan alam (seperti: banjir, petir, kebakaran hutan, gunung meletus, binatang mengamuk), pertanian dan peternakan gagal, wabah penyakit merajalela.

Perlakuan baik terhadap arwah leluhur itu, menurut kepercayaan mereka, berupa melakukan upacara ritual dengan menyampaikan persembahan dan pemujaan pada waktu-waktu tertentu di tempat yang telah dipersiapkan oleh mereka. Salahsatu tempat upacara ritual itu ialah punden berundak. Yang dimaksud dengan punden berundak adalah kompleks bangunan yang disusun secara berundak (bertingkat) dan terbuat dari batu besar yang di dalamnya ada menhir (batu tegak), meja batu, peti batu, dan lain-lain.

Bentuk kompleks punden berundak berporos arah timur-barat mengikuti arah perjalanan matahari yang selalu terbit di sebelah timur, kemudian bergerak melintasi dunia, dan terbenam di sebelah barat. Perjalanan matahari demikian menggambarkan perjalanan hidup manusia. Matahari terbit menggambarkan kelahiran manusia, gerakan matahari dari timur ke barat menggambarkan perjalanan hidup manusia di dunia, dan terbenamnya matahari di ufuk barat menggambarkan kematian manusia. Contoh bentuk kompleks punden berundak adalah kompleks Taman Purbakala di Cipari, kabupaten Kuningan.


Sumber :
Dr Rochajat Harun Med
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=15&jd=Mencermati+Objek+Wisata+Zaman+Prasejarah+di+Kabupaten+Kuningan&dn=20090219163939
17 Juni 2010
Bandung, 19 Februari 2009

Gadung Flora Identitas Kabupaten Kuningan


Gadung merupakan tumbuhan asli Indonesia. Jenis tumbuhan ini mempunyai daerah persebaran yang cukup luas mulai dari India, Cina bagian selatan, Asia Tenggara sampai Niugini. Gadung jarang ditanam namun kebanyakan tumbuh dan berkembang biak secara alami.

GADUNG (Dioscorea hispida Dennst.)
Nama lain : Sikepa, ondo
Suku : Dioscoreaceae

Latar Belakang
Gadung merupakan tumbuhan asli Indonesia. Jenis tumbuhan ini mempunyai daerah persebaran yang cukup luas mulai dari India, Cina bagian selatan, Asia Tenggara sampai Niugini. Gadung jarang ditanam namun kebanyakan tumbuh dan berkembang biak secara alami. Umbi Gadung cukup enak dimakan namun harus melalui proses untuk menghilangkan racun “dioscorin” yang terdapat dalam umbinya. Caranya dengan memotong atau mengiris umbi menjadi bagian yang kecil-kecil, dicuci, dididihkan dengan air garam kemudian dicuci dengan air mengalir. Umbi Gadung bisa dimasak dan dijadikan keripik. Kadang-kadang racun pada umbi Gadung dimanfaatkan untuk meracuni binatang atau ikan. Dalam musim paceklik (keku-rangan pangan) maka umbi Gadung dapat diman-faatkan sebagai makanan alternatif.
Dari uraian diatas maka pemerintah daerah Kabupaten Kuningan memilih tanaman Gadung sebagai flora identitas daerahnya. Ber-dasarkan SK Bupati Kuningan No. 522.21/1278-LH/2000 tanggal 23 Oktober 2000.

Pertelaan
Herba merambat dan berumbi. Umbi bulat memanjang, kuning pucat sampai abu-abu terang, bagian dalam putih sampai kuning. Batang merambat dan berkelok kekiri serta berduri. Daun beranak daun 3, berbulu, anak daun yang ditengah melonjong sampai jorong, anak daun di bagian samping tidak simetris. Perbungaan jantan membulir, 2 – 3 karangan bunga, benang sari 6. Perbungaan betina soliter, mun-cul pada ketiak daun bagian atas, merunduk. Buah kapsul berkayu, bersayap 3 dan pecah. Biji bersayap.

Ekologi
Gadung umumnya tumbuh di daerah hutan hujan tropis dataran rendah sampai pada ketinggian 1200 m di atas permukaan laut.

Pembudidayaan
Gadung jarang ditanam namun biasanya tumbuh secara alami. Per-banyakan tanaman biasanya dengan umbi.

Musim berbunga dan berbuah
Musim berbunga dan berbuahnya belum diketahui.


Sumber:
http://clearinghouse.bplhdjabar.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=180%3Agadung-flora-identitas-kabupaten-kuningan&catid=82%3Aidentitas-flora&Itemid=199&lang=id
17 Juni 2010

Di Kabupaten Kuningan Ada Ikan Dewa

Masyarakat Kab Kuningan memiliki mitos ikan dewa yang terdapat di Balong Keramat di Kec Cigugur, Darmaloka, Desa Ragawacana Kec Kramatmulya. Desa Sidamulya dan Manis Kidul Kec Jalaksana serta di Kec Pasawahan. Ikan dewa oleh masyarakat sekitar tidak pernah diganggu. Apalagi dipancing untuk dikonsumsi.

Mitos tersebut terpelihara sampai sekarang. Dampaknya, banyak wisatawan yang ingin berkunjung ke Kuningan sekedar ingin mengetahui ikan dewa. Padahal jenis ikannya sama dengan ikan emas. Hanya perbedaannya habitatnya berada di air bersuhu dingin dan berasal dari sumber mata air.

Menurut sumber lisan masyarakat. Keberadaan ikan dewa tidak terlepas dari Rama Haji Irengan. Salah satu ulama yang menyebarkan Islam di Kab Kuningan sekitar abad ke 15. Ia adalah seorang catrik (santri) yang belajar agama Islam pada Sunan Gunung Djati di Cirebon.

Dikirimnya Rama Haji Irengan, sebagai tindaklanjut penyebaran Islam di wilayah Kuningan sebelah selatan yang masih memeluk agama Hindu-Budha. Penyebarannya tidak saja di wilayah selatan. Namun ke utara pun dikerjakan. Mulai Kec Darma sampai Pasawahan.

Saat penyebaran itu, Rama Haji Irengan membuat balong (kolam-red) sebagai tanda masyarakatnya sudah Islam. Membuat kolam itu dilakukannya dalam satu malam dan langsung ditanami ikan. Ikan itu lah yang sampai sekarang disebut ikan dewa dan tidak boleh dimakan oleh siapa pun.

Enok (48) warga Kel/Kec Cigugur menyebutkan. “Masyarakat di sekitar sini (Cigugur-red) tidak ada yang berani mengganggu ikan dewa. Pernah suatu ketika, ikan dewa dari Balong Keramat Cigugur diambil oleh petugas dari Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta untuk ditangkarkan di sana,” ucapnya.

Lanjutnya, “yang saya tahu, ikan di Balong Kramat terlihat stres semua. Berdasarkan kebiasaan, ikan tidak berani muncul ke atas permukaan air. Hal itu berlangsung lama. Ketika ikan dibawa, saya juga ikut sedih. Bagaimana tidak sedih, ikan sebesar bayi yang setiap hari dilihat dibawa,” ungkapnya.

Namun dirinya tidak tahu kelanjutannya, apakah ikan yang dibawa ke TMII itu sekarang masih hidup atau tidak. Enok masih percaya ikan dewa selalu berpindah tempat jika di salah satu balong kramat mengalami air surut. Ia pun memberikan contoh. Ketika balong Cigugur dikuras, ikannya tidak ada.

“Ada waktunya ikan itu pindah ke tempat lain. Seperti dari Balong Kramat Cigugur ke Cibulan (Manis Kidul-red). Begitu pun sebaliknya. Soalnya jumlah ikannya tidak pernah berkurang maupun bertambah. Tetap saja segitu,” ucapnya.

Suryono, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kab Kuningan menyebutkan. Ikan dewa merupakan khasanah budaya masyarakat Kuningan. Hal itu berlangsung ratusan tahun lalu yang sampai saat ini masih terpelihara dengan baik.

Tidak saja berupa ikannya, kata Suryono, termasuk folklornya pun tetap lestari. “Memang banyak keunikan dari ikan dewa sehingga banyak pengunjung dari luar kota yang hanya sekedar melihatnya,” ungkapnya.***


Sumber:
Sitihawa
http://umum.kompasiana.com/2009/03/12/di-kabupaten-kuningan-ada-ikan-dewa/
17 Juni 2010

Melongok Ketahanan Pangan di Kabupaten Kuningan

Ada dua Desa Mandiri Pangan (DMP) di Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat yang sudah mandiri. Saat mengunjungi desa tersebut Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Achmad Suryana mendorong aparat dan masyarakat di Tasikmalaya agar terus mengembangkan program DMP tersebut terutama untuk mengurangi kerawanan pangan dan penduduk miskin di pedesaan.

“Kementerian Pertanian mengharapkan agar di desa mandiri pangan memiliki kelembagaan yang mantap, aktifitasnya berjalan dan programnya menjadi milik masyarakat desa, bukan lagi menganggap program pemerintah,” tambah Achmad Suryana ketika berkunjung ke Kabupaten Kuningan, Ciamis dan Banjar, Jawa Barat.

Bupati Kuningan H. Aang Hamid Suganda dalam sambutannya mengatakan untuk mendukung program peningkatan ketahanan pangan, Kabupaten Kuningan memiliki potensi : lahan sawah seluas 29.078 ha dengan indek pertanaman padi rata-rata yaitu 200 %, tanah pangonan (gembalaan) seluas 1.619 ha, tegalan dan ladang huma seluas 27.141 ha, kolam empang seluas 545 ha dengan curah hujan 2.137 mm /tahun.

“Dalam memenuhi kebutuhan pangan daerah, Kabupaten Kuningan telah mampu memenuhinya dari produksi daerah kecuali kebutuhan ikan masih didatangkan dari luar daerah,” tambah H Aang Hamid dalam sambutannya.

Berdasarkan kebutuhan norma gizi, produksi beras Kuningan masih menunjukkan angka surplus sebanyak 88.573 ton. Kebutuhan pangan hewani untuk memenuhi kecukupan gizi dari daging, telur dan susu dapat disediakan dari produksi daerah sendiri bahkan terjadi surplus.

Kemampuan daerah untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ikan 17,5 kg/kapita/tahun sulit dipenuhi karena potensi yang dimiliki tidak cukup. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut (+ 20.000 ton/tahun) harus tersedia kolam/empang 2.000 ha yang diusahakan secara intensif, sementara luas kolam di Kabupaten Kuningan seluruhnya hanya 545 ha ditambah waduk darma dan situ-situ yang tersebar dengan luas + 500 ha yang potensinya maksimum 8.000 ton/tahun. Oleh karena itu strategi pemenuhan kebutuhan ikan konsumsi adalah produksi daerah ditambah pemasukan dari luar baik berupa ikan segar maupun ikan asin.

(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)


Sumber :
http://www.sinartani.com/pangan/melongok-ketahanan-pangan-kabupaten-kuningan-1274067190.htm
17 Juni 2010